Manajemen Sekolah
Nama : Raden Ayu Indriani
Nim : 11901159
Kelas : PAI 4A
Matkul : Magang 1
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd.
A. Pengertian Manajemen Sekolah
Manajemen sekolah adalah Suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar-mengajar yang optimal. Abeberapa faktor manajemen sekolah, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Fungsi Pokok Manajemen Sekolah
Manajemen sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru serta masyarakat setempat, untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat fungsi pokok manajemen tersebut merupakan proses yang berkesinambungan.
Selanjutnya, keempat fungsi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Perencanaan program pendidikan sedikitnya mempunyai dua fungsi utama. Pertama, merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga untuk mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan.
Kedua, kegiatan untuk menggerakkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien dan efektif untuk menciptakan tujuan yang telah ditetapkan.
b. Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
c. Pengawasan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan, merekam, memberi penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat serta memperbaiki kesalahan.
d. Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi harus memiliki sifat profesional dan manajerial. Mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan untuk menjamin bahwa segala keputusan penting yang dibuat oleh sekolah, didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan. Kepala sekolah khususnya, perlu mempelajari dengan teliti, baik kebijakan dan prioritas pemerintah maupun prioritas sekolah. Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah harus :
1. Memiliki kemampuan untuk berkolaborasi (bekerjasama) dengan guru dan masyarakat sekitar sekolah.
2. Memiliki pemahaman dan wawasan yang luas tentang teori pendidikan dan pembelajaran.
3. Memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menganalisis situasi sekarang berdasarkan apa yang seharusnya serta mampu memperkirakan kejadian di masa depan berdasarkan situasi sekarang.
4. Memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengidentifikasikan masalah dan kebutuhan yang berbentuk efektivitas pendidikan di sekolah
5. Mampu memanfaatkan berbagai tantangan sebagai peluang serta mengkonseptualkan arah baru untuk perubahan.
Dalam dunia pendidikan, pemberdayaan merupakan cara yang sangat praktis dan produktif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kepala sekolah (manajer), para guru, dan pegawai. Proses yang ditempuh untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan produktif tersebut adalah dengan membagi tanggung jawab secara profesional kepada para guru.
Dalam manajemen sekolah, pemberdayaan dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja sekolah agar dapat mencapai tujuan secara optimal, efektif dan efisien. Pada sisi lain, untuk memberdayakan sekolah harus pula ditempuh upaya-upaya memberdayakan peserta didik dan masyarakat setempat, disamping mengubah paradigma pendidikan yang dimiliki oleh para guru dan kepala sekolah.
Pada dasarnya pemberdayaan terjadi melalui beberapa tahap :
Pertama, masyarakat mengembangkan sebuah kesadaran awal bahwa mereka dapat melakukan tindakan untuk meningkatkan kehidupannya dan memperoleh seperangkat keterampilan agar mampu bekerja lebih baik. Melalui upaya tersebut, pada tahap kedua, mereka akan mengalami pengurangan perasaan ketidak mampuan dan mengalami peningkatan kepercayaan diri. Akhirnya, ketiga, seiring dengan tumbuhnya keterampilan dan kepercayaan diri, masyarakat bekerjasama untuk berlatih lebih banyak mengambil keputusan dan memilih sumber-sumbernya yang akan berdampak pada peningkatan mereka.
Ada delapan langkah pemberdayaan dalam kaitannya dengan manajemen sekolah, yaitu :
(1) menyusun kelompok guru sebagai penerima awal atas rencana program pembedayaan
(2) mengidentifikasi dan membangun peserta didik disekolah (3) memilih dan melatih guru dan tokoh masyarakat yang terlibat secara dalam implementasi manajemen sekolah
(4) membentuk dewan sekolah, yang terdiri dari unsur sekolah, unsur masyarakat dibawah pengawasan pemerintah daerah
(5) menyelenggarakan pertemuan-pertemuan anggota dewan sekolah
(6) mendukung aktivitas kelompok yang tengah berjalan
(7) mengembangkan hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat
(8) menyelenggarakan loka-karya untuk evaluasi
2. Faktor Efektivitas, Efisiensi dan Produktivitas Manajemen Sekolah
Pembinaan sistem pendidikan suatu sekolah tidak hanya ditentukan oleh peranan salah satu unit kerja, tetapi oleh semua unit kerja dalam lingkungan sekolah tersebut.
Maka dari itu, keberhasilan implementasi manajemen sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan sedikitnya dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu efektivitas, efisiensi dan produktivitas. Ketiga dimensi tersebut saling berkaitan antara satu sama lain dan saling pengaruh mempengaruhi. Meskipun demikian, dalam mengukur keberhasilan suatu program atau suatu kegiatan ketiga dimensi tersebut dapat dipisahkan.
Keluaran atau output manajemen sekolah adalah segala sesuatu yang dikelola dan dihasilkan di sekolah, yaitu berapa banyak yang dihasilkan dan seberapa baik sekolah dapat mengelola keluaran, tersebut dapat beragam perubahan prilaku baik dalam aspek kognitif, psikomotor maupun afektif, pada pengelola sekolah, baik peserta didik, kepala sekolah, guru, maupun pegawai.
Perubahan kognitif berbentuk perubahan aspek intelektual yang terjadi dalam aspek pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Perubahan-perubahan itu berjenjang artinya yang disebut terdahulu lebih rendah tingkatannya dibanding yang disebut kemudian. Misalnya, perubahan pengetahuan hapalan lebih rendah tingkatannya dibandingkan dengan perubahan pemahaman, perubahan pemahaman lebih rendah dibanding dengan penerapan. Perubahan psikomotor, berupa perubahan keterampilan diawali dengan adanya perubahan pengetahuan. Misalnya, dari tidak terampil menjadi terampil. Perubahan afektif merupakan hasil belajar yang berupa perubahan sikap seseorang. Misalnya dari sikap masa bodoh menjadi peduli.
Faktor Produktivitas Manajemen Sekolah
Konsep produktivitas pada awalnya dikemukakan oleh Quesney, seorang ekonom Perancis pada tahun 1776. Oleh karena itu, wajar jika pengertian produktivitas senantiasa dikaitkan dengan nilai ekonomis suatu kegiatan, yakni bagaimana mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan menggunakan sumber daya dengan dana sekecil mungkin.
Produktivitas pendidikan dapat ditinjau dari tiga dimensi sebagai berikut :
1. Meninjau produktivitas sekolah dari segi keluaran administratif, yaitu seberapa besar dan seberapa baik layanan yang dapat diberikan dalam suatu proses pendidikan baik oleh guru, kepala sekolah, maupun pihak lain yang berkepentingan.
2. Meninjau produktivitas dari segi keluaran peubahan prilaku, dengan melihat nilai-nilai yang diperoleh peserta didik sebagai suatu gambaran dari prestasi akademik yang jelas dicapainya dalam periode belajar tertentu disekolah.
3. Melihat produktivitas sekolah dari keluaran ekonomis yang berkaitan dengan pembiayaan layanan pendidikan di sekolah.
Depdikbud (1998) mengungkapkan beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar manajemen pendidikan dan persekolahan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien
1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan organisasi dan manajemen
2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepala sekolah
3. Faktor-faktor yang berhubungan dengan guru
4. Faktor-faktor yang berhubungan dengan anggaran pendidikan
5. Faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan sekolah
6. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pengawasan dan pengendalian
7. Faktor-faktor yang berhubungan dengan disiplin sebagai kunci keberhasilan dalam pengelolaan.
3. Faktor Pendidik
Yang termasuk pendidik di sini adalah orang tua, guru, masyarakat dan teman-temannya yang dapat mempengaruhi semangat belajar seorang anak. pendidik pertama dan paling utama bagi anak dan dapat membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pendidikan anak adalah orang tuanya. Oleh karena itu sifat-sifat orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, semuanya dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh anak.
Guru-guru yang efektif adalah mereka yang punya rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis dari pada autokratik dan mereka harus mampu berhubungan dengan mudah dan wajar dengan para siswa, baik secara perorangan ataupun secara kelompok. guru yang tidak efektif jelas kurang memiliki rasa humor, mudah marah, menggunakan komentar-komentar yang melukai dan mengurangi rasa ego, cenderung bertindak otoriter, dan biasanya kurang peka terhadap kebutuhan-kebutuhan siswa.
Mengajar yang baik bukan sekedar persoalan teknik-teknik dan metodelogi belajar saja. Untuk menjaga disiplin, guru sering bertindak otoriter, menjauhi siswa, bersikap dingin itu menyembunyikan rasa takut kalau dianggap lemah. Nasehat yang sering diberikan misalnya agar guru bertindak keras pada saat permulaan.
4. Faktor Pengaruh Lingkungan Masyarakat
Kehidupan anak bukan saja berlangsung di dalam rumah tangga dan sekolah, akan tetapi lebih besar lagi kehidupannya berada dalam lingkungan masyarakat. Kehidupan dalam masyarakat merupakan lingkungan ketiga bagi anak dan juga merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan pendidikan mereka. Karena dalam lingkungan masyarakat inilah seorang anak akan menerima bermacam-macam pengalaman, baik yang bersifat positif maupun negatif. Di sini anak akan menerima didikan dan pengalaman yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan lingkungan masyarakat di tempat ia berada. Apa saja yang diterima anak dalam masyarakat akan turut mempengaruhinya.
Lingkungan merupakan tempat atau area pergaulan anak-anak yang tidak mungkin dipisahkan dengan anak itu sendiri. Lingkungan ini sangat besar juga pengaruhnya bagi anak, karena apabila lingkungan itu baik maka baik pula pengaruhnya bagi anak. Jika anak-anak sudah dipengaruhi oleh teman upaya peningkatan pada anak tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan masyarakat dimana anak itu berada.
B. Kegiatan Belajar-Mengajar di Sekolah
Proses perkembangan prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga seorang siswa dapat dikatakan berhasil dalam belajar atau dapat dikatakan mendapat prestasi belajar yang tinggi.
Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1) Faktor Internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
2) Faktor Eksternal (faktor dari luar diri siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3) Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
Faktor yang berasal dalam diri siswa itu sendiri, yaitu meliputi dua aspek: aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).
1. Aspek Fisiologis
Faktor kesehatan fisik merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat kelancaran pendidikan seorang anak. keadaan anak yang sakit atau kurang sehat atau mengalami kelainan-kelainan pada fisiknya, seperti pendengaran yang kurang, penglihatan yang tidak sempurna dan lain-lain akan menghambat kelancaran pendidikannya.
2. Aspek Psikologis
Sebagaimana yang terdapat dalam aspek fisioligis, maka dalam aspek psikologis juga terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran anak. Di antara faktor-faktor psikologis yang dipandang lebih penting bagi anak adalah sebagai berikut :
a. Intelegensi
Manusia yang belajar sering menghadapi situasi-situasi baru serta permasalahan. Hal itu memerlukan kemampuan individu yang belajar untuk menyesuaikan diri serta memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi.
b. Bakat
Secara umum bakat adalah : “Kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.”
Dengan demikian setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.
c. Motivasi
Dalam proses belajar diketahui ada satu perangkat jiwa yang harus diperhatikan yaitu motivasi. Arti dan fungsi motivasi dalam belajar sangat berperan, khususnya dalam melakukan kegiatan pembelajaran tersebut.
C. Peran Kepala Sekolah Sebagai Wewenang
Pihak kepala sekolah dalam menggapai visi dan misi pendidikan perlu ditunjang oleh kemampuan kepala sekolah dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Meskipun pengangkatan kepala sekolah tidak dilakukan secara sembarangan, bahkan diangkat dari guru yang sudah berpengalaman atau mungkin sudah lama menjabat sebagai wakil kepala sekolah, namun tidak dengan sendirinya membuat kepala sekolah menjadi profesional dalam melakukan tugas.
Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencaipaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.
2. Kepala Sekolah Sebagai Leader
Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Wahjosumijo (1999:110) “mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan admitrasi dan pengawasan”
3. Kepala Sekolah Sebagai Innovator
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator, kepala sekolah harus memilki strategi yang tepat untuk menjalin hubugan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah, dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif.
Sumber : Engkoswara, Paradigma Manajemen Pendidikan, Menyongsong Otonomi daerah,(Bandung : Yayasan Atmal Keluarga, 2001), hal. 86
Al-Qur’an dan Terjemahan, (Semarang: Toha Putra, 1997), hal. 64
W. J. S. Poerwadarminta, Kamus umum Bahasa Indonesia, Cet. II (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hal. 53
Al-Qur’an dan Terjemahan…, hal. 45
Enfkoswara, Paradigma… ,hal. 96
Supardi, Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan, (Jakarta: P2LPTK, 1988), hal. 156
Soedjadi, F. X, Analisis Manajemen Modern, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hal. 123
Soedijarto, Pendidikan Sebagai Sarana Reformasi Mental dalam Upaya Pembangunan Bangsa (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), hal. 63
Depdikbud, Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan Menjelang Era Tinggal Landas,(Jakarta: Depdikbud, 1998), hal 49
Al-Qur’an dan terjemahannya, …, hal. 421
Buchori Mukhtar, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan dalam Renungan (Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press, 1994), hal. 78
Abu Ahmadi dan Nur Ahbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2001), hal. 27
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta , Raja Grafindo Persada, 2003), hal.144.
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan,(Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hal.121.
Komentar
Posting Komentar